Gimana sih aturan menggunakan eskalator di stasiun?

Gimana sih aturan menggunakan eskalator di stasiun?

Sejak Februari 2017 gue menjadi anggota “roker” alias rombongan kereta. Harus gue akui pelayanan commuter line membaik dari pada yang sebelumnya gue tahu, sebelum gue di tugaskan ke Canberra tahun 2013 lalu.

Pada sekitar bulan Juli-Agustus 2017 lalu, eskalator hadir di Stasiun Tanah Abang , stasiun yang memang menjadi perhentian gue setiap harinya. Awalnya, gue pikir dengan kehadiran eskalator ini, maka alur keluar masuk penumpang dari dan ke stasiun akan menjadi lebih lancar dan lebih cepat. Tapi ternyata gue salah. Logika nya, memang kehadiran eskalator ini memang bisa mempercepat alir penumpang. Apalagi di tengah eskalator terdapat papan kuning bertuliskan “Penggunaan jalur kiri untuk berdiri/diam dan penggunaan jalur kanan untuk berjalan atau mendahului” yang dicetak dengan huruf besar berwarna hitam, yang menurut gue pribadi amat jelas dan mudah dibaca.

Tapi kenyataannya, susah sekali membuat orang-orang yang berada di jalur kanan untuk berjalan atau mendahului. Gue gak ngerti, mereka tidak membaca, mereka tidak peduli, atau mereka tidak mau tahu. Memang ada orang tua/sepuh atau wanita hamil yang mungkin memang akan merasa capek kalau harus berjalan seperti pada tangga biasa, oke gue paham, mereka silahkan berada di jalur kiri sehingga mereka tidak akan merasa lelah, tapi ya mohon jangan berada di jalur kanan.

Seringkali orang-orang yang berada di eskalator di stasiun ini diam, tidak bergerak sama sekali, tapi tidak mau pindah ke jalur kiri. Gue gak ngerti konsep yang ada di kepala mereka itu seperti apa. Melihat kondisi seperti itu, PT KCJ (PT KAI Commuter Jabodetabek) akhirnya melakukan semacam sosialisasi di stasiun dengan cara menempatkan petugas lengkap dengan alat pengeras di tangannya yang kemudian memberikan imbauan kepada seluruh pengguna eskalator di stasiun untuk mengikuti aturan penggunaan eskalator di stasiun tersebut. Namun sayang nya tetap saja ada yang tidak memperdulikan imbauan sang petugas meskipun sang petugas sudah berteriak-teriak sampai suara mereka serak.

Sempat suatu hari, salah satu ibu-ibu yang berdiri tepat didepan saya tidak mau berjalan meskipun saat itu kami berada di jalur kanan dan didepan si ibu anak tangganya kosong. Saya ingin mendahuluinya tapi tidak bisa, sang petugas pun sudah berteriak dan meminta si ibu untuk berjalan maju, si ibu pun tetap cuek, sampai saya akhirnya mengucapkan ‘permisi’ ke si ibu, dan si ibu tetap diam. Saya mulai kesal karena kenapa sih orang-orang susah banget menaati peraturan. Kalau gak mau taat peraturan, paling tidak jangan ngerepotin orang lain lah. Gue akhirnya colek si Ibu sambil mengucapkan “permisi bu, kalau mau diam di sisi kiri saja bu”. Setelah gue bilang begitu, si ibu pindah ke sisi kiri namun menatap gue dengan kesal. Lah… dia yang salah, dia yang nyolot ucap gue dalam hati.

Kemudian di hari lainnya, saat sosialisasi berupa petugas berteriak-teriak masih dilakukan, ketika gue memutuskan saat itu gue berada di jalur kiri karena gue lagi capek banget hari itu, ada wanita yang berdiri di jalur kanan berkata kepada temannya yang berada di jalur kiri (mereka berdiri bersebelahan), si wanita bilang “kalau tetep jalan, ngapain juga gue pakai eskalator”, mendengar ucapan seperti itu gue pun langsung menoleh ke wanita itu dan mencoba mengerti pola berpikirnya dia. Dan ternyata seorang laki-laki yang berada tepat didepan gue juga menoleh ke wanita itu dengan memberikan tatapan aneh yang gue asumsikan bahwa si laki-laki itu juga berpikiran sama dengan gue.

Intinya dalam postingan kali ini, gue cuma mau bilang, untuk menaati sebuah peraturan itu memang sulit. Gak semua peraturan itu lu nilai baik dan benar. Tapi pernah gak lu mikir akibat buat orang lain saat lu gak menaati peraturan? Kalau lu mengabaikan sebuah peraturan tapi yang kena dampak nagatif cuma diri lu sendiri sih ya gak pa pa, bisa dibilang, lu yang berbuat, lu yang bertanggung jawab. Tapi kalau lu gak menaati peraturan dan mengakibatkan orang lain diambil hak nya oleh lu, itu kan gak sopan namanya. Apa lu mau hak lu diambil orang lain?

Kalau menurut gue pribadi, eskalator yang ada di stasiun itu dibuat untuk memperlancar arus penumpang disana, sehingga gak terjadi penumpukan saat masuk dan keluar stasiun. Eskalator juga membantu orang yang lemah secara fisik sehingga tidak menggunakan tangga manual yang dinilai lebih melelahkan. Nah untuk mencapai kedua tujuan ini, mangkanya dibagi menjadi dua jalur, yaitu jalur kiri dan jalur kanan. Begitu sih menurut pendapat gue pribadi. Dan peraturan ini setahu gue bersifat universal kok, bukan hanya di Indonesia saja, meskipun memang untuk di Indonesia jalur kiri yang berhenti dan ada di negara lain jalur kanan yang berhenti. Intinya satu jalur berhenti, dan jalur lainnya berjalan.

 

 

Apa kalian mungkin punya pendapat lain?

 

 

Advertisements

Pemimpin?

Menjadi atasan bukanlah pekerjaan mudah. Gue tahu persis tentang itu, meskipun memang gue belum pernah menjadi atasan yang memangku jabatan tertentu (yet!) 😉

Tapi sebagai anak buah yang di pimpin, gue menemukan beberapa kelakuan pemimpin yang kurang menyenangkan berdasarkan pengalaman pribadi gue.

1. Pemimpin yang kurang memikirkan nasib anak buah nya.

Menjadi seorang pemimpin, menurut opini gue, harus mampu memikirkan nasib anak buahnya. Nasib yang gue bicarakan disini bukanlah hanya dari segi financial saja, tapi juga masalah pengembangan kemampuan anak buahnya. Tidak sedikit pemimpin yang hanya berfikir : “yang penting anak buah bisa mengerjakan apa yang gue perintahkan”. Tapi menurut gue, kadang pemimpin lupa bahwa bisa belum tentu berarti mampu. Maksud gue, memang si anak buah bisa mengerjakan apa yang diperintahkan oleh si pemimpin. Tapi apakah itu sudah hasil yang terbaik? Kenapa pemimpin jenis ini tidak memikirkan tentang pengembangan kemampuan anak buahnya? Bukankah hasil yang diperoleh akan lebih baik jika pemimpin secara terus menerus mengembangkan kemampuan anak buahnya? Yah… biarpun gue paham, kadang beberapa pemimpin berpikir : “kalau anak buah gue nambah pinter dan bisa berdiri sendiri, nanti dia malah ninggalin gue. Gue juga yang bakal repot”.

2. Pemimpin yang terlalu kelihatan mengejar pamor dan uang.

Pemimpin jenis ini hanya memikirkan uang dan nama baik untuk dirinya sendiri. Sehingga kaang dia lupa memikirkan kesejahteraan bawahan nya. Dia hanya memikirkan, dirinya, dirinya, dan dirinya sendiri.

3. Pemimpin yang tidak mempunyai perencanaan dalam berorganisasi.

Pemimpin jenis ini menjalankan organisasi tanpa arah. Tanpa visi dan misi. Seolah kalau dalam hubungan kisah kasih, dia adalah pihak yang berkata : “jalanin aja dulu”. Menurut gue, bagaimana organisasi bisa berjalan kalau pemimpinnya terlalu “cair” dalam menjalankan organisasi. Semua serba liat nanti. Semua serba fleksibel. Semua serba dijalanin aja dulu. Gak jelas.

4. Pemimpin yang tidak berlaku fair

Nah, beberapa pemimpin terkadang suka aneh dalam melakukan penilaian terhadap anak buahnya. Pemimpin kadang suka gagal melihat mana anak buahnya yang benar-benar bekerja dengan baik dan mana anak buah yang hanya cari muka saja. Tidak sedikit pula pemimpin yang aneh kalau menurut gue. Aneh karena si pemimpin terus menerus menambahkan beban pekerjaan kepada anak buah yang dia anggap mampu dan tidak memberikan pekerjaan sama sekali kepada anak buah yang dia anggap kurang mampu dalam mengerjakan pekerjaannya. Tapi menurut gue ini gak fair. Kenapa yang kerja baik jadi overload, tapi yang gak bisa kerja malah jadi bisa ongkang-ongkang kaki. Kalau menurut gue, ya sekalian aja pecat atau beri sangsi terhadap anak buah yang gak bisa kerja itu. itu akan lebih fair. Menurut gue lho ya.

Sejauh ini, ya itulah beberapa kelakuan pemimpin yang kurang menyenangkan yang pernah gue alami. Mungkin masih banyak lagi orang diluar sana yang menemukan yang lebih aneh lagi. Ada yang punya pengalaman bekerja dengan atasan yang kurang menyenangkan?

Not Pretty Enough – by Kasey Chambers

Sebenarnya ini lagu udah lama banget (ternyata). Dan gue baru tahu ini lagu pas lihat acara The Voice Kids Australia 2014. Hehe gak up to date banget ya gue. Tapi entah kenapa jadi mulai suka aja sama lagu ini. Dan ini lirik lagu nya :

Am I not pretty enough
Is my heart too broken
Do I cry too much
Am I too outspoken

Don’t I make you laugh
Should I try it harder
Why do you see right through me

I live, I breathe, I let it rain on me
I sleep, I wake, I try hard not to break
I crave, I love, I’ve waited long enough
I try as hard as I can

Am I not pretty enough
Is my heart too broken
Do I cry too much
Am I too outspoken

Don’t I make you laugh
Should I try it harder
Why do you see right through me

I laugh, I feel, I make believe it’s real
I fall, I freeze, I pray down on my knees
I hope, I stand, I take it like a man
I try as hard as I can

Am I not pretty enough
Is my heart too broken
Do I cry too much
Am I too outspoken

Don’t I make you laugh
Should I try it harder
Why do you see right through me

Just curious

Apakah orang yang sedang jatuh cinta selalu ingin bertemu dengan orang yang disukainya?

Apakah orang yang sedang jatuh cinta selalu ingin berkomunikasi dengan orang yang disukainya?

Apakah orang yang sedang jatuh cinta selalu ingin mengetahui kabar dan aktivitas orang yang disukainya?

Atau justru kalau melakukan hal-hal diatas, malah dibilang posesif?

Atau malah dibilang berlebihan?

Atau malah dibilang weird ?

Thank You Boss!!!

thank-youBeberapa hari yang lalu gue ada acara kantor sampai malam. Acara tersebut baru selesai sekitar jam 10 malam. Pas di jalan pulang ke rumah, ban gue kempes. Sepertinya sih gue nggak nyadar melindas sesuatu. Paniklah gue, udah malam, udah nggak ada angkutan umum, dan jalanan sepi pula. Gue langsung nelfon asuransi gue yang menyediakan layanan Roadside Assistance. Unfortunately, sambungan itu lamaaaaaaa banget nggak diproses-proses. Gue pun semakin cemas, karena sudah hampir jam 11 malam. Entah kenapa disaat panik begitu, nama boss gue yang langsung teringat di kepala. Gue pun mencoba menghubungi si boss dengan harapan beliau bisa dan bersedia nolongin gue.

Tuutt…. tutt…. nada sambung mulai terdengar. Gak lama kemudian, terdengar jawaban

“Ya Nad?”

“Pak, ban mobil nadia kempes”

“Lu dimana?”

“Di depan sekolah A”

“Ok, gue kesana”

Dan dalam waktu kurang dari 15 menit, boss gue dateng bowww….

Seneng banget gue pas ngeliat dia dateng. And you know what? Akhirnya dia dong yang nolong ngegantiin ban gue yang kempes. Dia ngedongkrak dan ganti ban dengan kostum batik lengan panjang, karena beliau juga baru pulang dari acara kantor yang sama dengan yang gue hadiri malam itu. Huwaaaa…. bahagia banget gue. Ternyata boss yang selama ini dianggap “killer” sama beberapa orang, malah jadi malaikat penolong gue hari itu. So, sekarang, kalau dia mulai agak menyebalkan tentang pekerjaan kantor, gue harus nahan diri untuk nggak bete-bete banget, karena bagaimanapun, dia bisa cukup gue andalkan saat gue membutuhkan bantuan. Thank you boss!!! 🙂

Note : dan si boss juga nge escort gue dong sampai gue nyampe di komplek tempat tinggal gue 😀

New Soundtrack

Yovie and The Nuno – Tak Memilikimu

bulan katakan, katakan padaku
sungguhkah dirimu kan bersinar terang
terangi jalanku, jalanku untukmu
dan yakinkan aku sang pemilik hatimu

tapi kenyataan kamu masih dengannya ouh…

meskipun cintamu hebat,
meskipun engkau tak bisa tanpa aku
namun hatiku tak sanggup bertahan
aku tak memilikimu

sampai kpn kah harus ku menunggu
menunggu dirimu melepaskan dirinya
adakah salah bila ku meragu,
meragukan kamu sungguh inginkan aku

tapi kenyataan kamu masih saja dengannya ouh..

meskipun cintamu hebat,
meskipun engkau tak bisa tanpa aku
namun hatiku tak sanggup bertahan
aku tak memilikimu

lebih baik aku yang harus pergi
bila tak jelas begini
aku tak bisa dustai hatiku
kau tak sepenuhnya untukku
wooo…

meskipun cintamu hebat,
meskipun engkau tak bisa tanpa aku
namun hatiku tak sanggup bertahan
aku tak memilikimu

meskipun cintamu hebat,
meskipun engkau tak bisa tanpa aku
namun hatiku tak sanggup bertahan
aku tak memilikimu

Tak ada kuasa akan rasa
Walau kadang membuat tersiksa
Kenapa hati memilih dia
Dia yang sudah berdua

Ingin sekali mengubur rasa
Dalam, tenggelam, hingga tak bersisa

Tapi apa daya saat hati bicara
Saat rasa menggelora
Saat rasa begitu membara

Ingin ku berpaling darinya
Tapi hati enggan meninggalkannya

Oh rasa, menghilanglah
Aku tahu ini salah
Aku tahu ini akan mengakibatkan luka
Dan bukan akan berakhir suka

Losing Control

When people in love, they just see what they want to see, hear what they want to hear, and believe what they want to believe” –NN-

1272590838poems_15Gue mendengar kalimat itu dari salah satu film yang gue tonton beberapa hari yang lalu (lupa judul film nya). Dan sepertinya itu ada benarnya.

Gue saat ini mungkin sedang berada di posisi seperti apa diungkapkan pada kalimat diatas. Terkadang gue berfikir, “Am, I losing my mind?”.

Kelakuan gue belakangan ini mulai absurd. Beruntung gue masih punya teman-teman yang bersedia mendengarkan dan menasehati meskipun gue mulai bebal dan seringkali gagal melakukan apa yang mereka sarankan dan anjurkan.

Gue merasa bingung dengan diri gue sendiri. Kadang gue merasa mulai kehilangan kontrol dengan diri sendiri. Sounds crazy right? Tapi itulah yang terkadang gue rasakan. Bukankah merasakan jatuh cinta seharusnya memberikan rasa bahagia? Tapi kenapa rasa ini malah terkadang menyusahkan gue. Kenapa gue harus menyukai orang yang salah? Kenapa gue harus menyukai disaat yang tidak tepat? Kenapa gue terjebak di situasi seperti ini?

Ah, mungkin gue yang lebhay. Tapi suara di dalam kepala terus menerus bertengkar tanpa memperdulikan gue sebagai si pemilik otak. Di satu sisi otak berkata “He made me feel loved and wanted”, tapi disisi yang lain berkata “Come on… he already has someone” Suara itu terus sahut menyahut tanpa memperdulikan gue dan hati gue yang semakin tidak karuan. Sighhh!!!. But of course the cold reality was he was not mine, he belonged to someone else and I had no place in his life.

Saat gue yakin untuk menjauh, dia datang, dan semua benteng pertahanan yang sudah susah payah gue bangun, runtuh begitu saja. Saat gue mencoba untuk tidak menghubungi, dia menghubungi dan gue tidak bisa untuk tidak menjawab panggilan itu. Ah, gue kenapa? Kenapa gue tidak bisa mengontrol diri. Gue tahu ini masalah hati. Tapi hati ini kan punya gue. Bukannya harusnya gue bisa mengontrol semuanya?

Try to fix it

Tidak pernah ingin mengalami patah hati. Tidak pernah ingin menyakiti hati sendiri. Tidak pernah ingin menjatuhkan hati ke orang yang salah.

Tapi nyatanya, kita gak pernah bisa memilih kepada siapa hati menjatuhkan pilihan. Biarpun pilihan itu dapat mengakibatkan patah hati dan sakit hati.

Satu hal yang buruk (setidak nya menurut gue pribadi), terkadang saat hati sudah ikut serta, logika tak sanggup lagi berbicara. Tahu itu salah. Tahu itu tidak benar. Tahu itu tidak ada manfaatnya. Tahu itu hanya bayang semu. Tahu itu akan merugikan. Tahu itu akhirnya hanya akan membuat sakit hati. Tahu itu gak akan ada masa depannya. Tahu dan mengerti persis akan semua dampak buruk yang akan terjadi jika terus memaksakan melanjutkan sesuatu yang tidak jelas. Tahu dan paham akan segala resikonya. Tapi dengan mengetahui dan memahami, apa bisa menyudahinya dengan begitu saja? Sayangnya tidak. Tidak semudah itu. Biarpun teman-teman di sekeliling sudah dengan baik hatinya membantu untuk menyemangati, memberikan nasihat mulai dengan menggunakan cara yang paling sopan sampai menggunakan cara yang paling menyakitkan, tapi tidak mudah untuk melepaskan diri dari jeratan kesesatan yang dirasakan hati.

Gue sudah lebih dari satu kali merasakan kebodohan seperti ini. Tapi entah kenapa, rasanya kebodohan ini enggan pergi dari kehidupan gue. Kebodohan untuk menyukai orang yang salah. Kebodohan untuk menjalani sesuatu yang sebenarnya nggak layak untuk dijalani. Kebodohan untuk memperjuangkan sesuatu yang sama sekali nggak perlu dan nggak layak untuk diperjuangkan.

Tapi gue pernah berhasil untuk lepas dari kebodohan itu. Gue juga gak tahu persis alasan nya sehingga saat itu gue bisa sukses untuk keluar dari segala kebodohan dan mulai mentertawakan kebodohan yang telah gue lakukan itu. Tapi mungkin gue begitu congkak dengan keberhasilan itu, sehingga gue mulai yakin bahwa semua kontrol ada ditangan gue sendiri.Ternyata gue salah besar. Tiba-tiba saja kebodohan dating lagi dan gue melakukan kebodohan lagi. Gue berjuang karena yakin bisa keluar dari sini. Gue yakin karena gue sebelumnya juga bisa kok. Tapi apa yang terjadi? Gue terus mencoba, dan belum berhasil juga. Gue terus bertanya, kenapa gak bisa ya?

Gue terus bertanya tapi sepertinya tidak diiringi dengan tindakan yang mendukung. Tindakan gue justru membuat gue terkubur lebih dalam. Gue terus berteriak “tidak” tapi tidak disertai dengan tindakan nyata dari diri gue sendiri.

Oh come on, it’s just like I dig my own funeral.

Kenapa gue nggak berusaha untuk mendapat sesuatu yang lebih baik. Kenapa gue hanya menikmati kondisi yang ada saat ini tanpa berusaha untuk mengejar sesuatu yang lebih baik di masa yang akan datang. Seolah gue nggak mau improve diri gue sendiri. Damn!!!

Thank you guys

indexI’m so glad to have all of you in my life.

Kita nggak akan pernah bisa hidup sendiri. Itu pendapat pribadi gue. Gue akan selalu butuh teman-teman di sekeliling gue. Teman-teman yang bersedia tertawa bersama dan membuat gue tertawa disaat gue menangis. Teman-teman yang bersedia menerima segala kekurangan dan kelebihan gue. Teman-teman yang siap menampar gue sekeras-kerasnya saat gue mulai gak bisa befikir sehat. Teman-teman yang bersedia menerima gue meskipun gue berbuat kesalahan. They don’t leave me, they always there to raise me up even when I almost buried alive.

Bahagia gue punya teman-teman seperti kalian. I just want to say thanks to you guys. I love you all. I’m so sorry if I ever hurt you. I’m so sorry because sometimes I’m becoming so stubborn when you gave me an advice. Deep down inside, I’m so thankful to have you all in my life. I hope you also feel glad to have me as your friend. I hope I can give my best to all of you 🙂