Respect

images

Lama ternyata gak main ke kamar ini. Karena hidup gue yang datar-datar aja, karena terlalu banyak kejadian dalam hidup gue, atau ya karena gue lagi males corat-coret aja. Entahlah (^_^’).

But, here i am, mencoba kembali menyampaikan gerutu gue atas apa yang gue lihat di keseharian gue.

Kali ini keresahan gue diakibatkan karena gue melihat beberapa orang kurang menghargai pekerja di bidang jasa dalam kasus gue kali ini adalah waitress. Gue beberapa kali mendengar kalimat seperti ini:

“kalau pesan yang ini lama gak?”

“saya mau yang ini, tapi gak pake ini, ini, dan itu”

“gelasnya satu lagi”

dan beberapa kalimat lainnya.

Gue merasa kurang nyaman mendengar kalimat-kalimat diatas karena pengunjung tidak menyematkan kata sandang mba/mas. Entah gue yang lebhay atau gimana ya, tapi kok rasanya kurang nyaman terdengarnya dan terdengar kurang menghargai.

Memang waitress itu pegawai/petugas di rumah makan tersebut, tapi bukan berarti mereka harus diperlakukan dengan kurang sopan kan?

Oh ya, satu hal lagi, kalau sudah selesai makan ditempat makan, apakah sulit kalau menumpuk piring bekas makanan kita ditengah #TumpukDiTengah ? Karena gue rasa dengan cara seperti itu akan mempermudah pegawai rumah makan yang akan membersihkan meja bekas tempat kita makan. Dan kalau di restoran cepat saji, kenapa gak langsung buat sampahnya ditempat sampah yang tersedia di restoran tersebut sih, kan lebih cepat bersih lebih baik. Itu menurut gue pribadi sih ya.

Tapi tidak sedikit lho yang bilang: “Lah, ngapain gue yang repot, itu kan tugasnya pegawai restoran.”. Gue gak bisa ngomong apa-apa kalau ada orang yang bilang begini. Gue cuma bisa mencari alasan bahwa ya kan gak semua orang sama.

Inti dari tulisan gue kali ini sih, kita semua punya pekerjaan masing-masing, punya tanggung jawab pekerjaan masing-masing, jadi saling menghargai aja lah. Just show some respect.

Tapi tentunya ya, pemilik pekerjaan juga harus menjalankan pekerjaannya sesuai dengan job desc nya masing-masing. Ambil contoh, resepsionis, waitress, SPG, teller, atau pekerja jasa lainnya, mau tidak mau memang harus mampu memberikan senyum mereka saat mereka sedang memberikan pelayanan kepada pelanggan. Akan berbeda dengan programmer, tukang servis komputer, yang berhadapan dengan perangkat setiap harinya.

So, last but not least, give respect,and you will get respect.

Advertisements

Satu Hari Nanti

21+Gue mau cerita tentang pengalaman gue hari ini. Hari ini gue nonton film yang berjudul ‘Suatu Hari Nanti’ di sebuah bioskop. Nope, gue gak bakalan me-review film ini, karena kayaknya gue kurang jago dalam hal review film. Kalau kalian ingin tau trailer-nya, kalian bisa klik di sini.

Jadi, hari ini gue nonton film yang gue sebutin barusan. Film ini jelas menuliskan di poster film nya, bahwa film ini adalah untuk penonton berusia 21 tahun ke atas. And of course, gue masuk golongan tersebut. Gue juga sempat melihat di beberapa website dan video youtube yang berisikan promosi film tersebut, menyebutkan bahwa film ini diperuntukkan bagi penonton berusia 21 tahun ke atas.

Saat gue sedang menunggu pintu studio dibuka, gue melihat sepasang cowok dan cewek yang dari bahasa tubuh dan gerak gerik mereka dapat gue asumsikan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Cowok dan cewek ini masih memakai seragam sekolah. Jujur awalnya gue merasa aneh, kok anak sekolah bisa beli tiket untuk film 21+. Tapi pikiran itu gue tepiskan jauh-jauh, karena kan masih banyak studio lain di bioskop tersebut yang memainkan bukan film dewasa.

Pintu studio kemudian dibuka. Saat itu memang penonton tidak banyak, mungkin hanya sekitar 10 orang. Karena memang hari ini bukan hari libur. Bioskop itu, setahu gue memang hanya ramai di hari libur atau tanggal merah, selebihnya biasa saja. Saat masuk, gue melihat sepasang anak sekolah itu pun juga masuk. Gue bingung. Tapi apa iya gue punya hak untuk menegur mereka yang belum terhitung cukup umur untuk menonton film tersebut? Tapi disisi lain, gue juga gak mau mereka nonton film ini. Karena gue percaya, saat si pembuat film menyatakan bahwa film tersebut adalah film 21+, ya it means ada hal-hal dalam film tersebut yang tidak baik ditonton oleh penonton dibawah usia 21 tahun.

Pikiran gue bertarung, video-video pembuka sebelum film mulai sudah dimainkan. Gue bingung harus bagaimana. Karena gue merasa salah kalau membiarkan dua anak sekolah ini menonton film ini.

Sesaat sebelum film dimulai, salah seorang pegawai dari bioskop masuk ke studio dan berbicara dengan pasangan ini, dan akhirnya mereka keluar dan tidak jadi menonton film ini. Lho kok bisa?

Selang dua bangku dari gue, ada dua orang wanita yang menonton juga. Sebelum film dimulai, salah satu dari mereka bercerita, ternyata dia melapor komplain kepada pihak bioskop karena membiarkan anak sekolah ini membeli tiket untuk film yang bukan diperuntukkan untuk usia mereka. Pihak bioskop mendengarkan komplain wanita tersebut dan akhirnya membawa keluar dua anak sekolah tersebut. Biarpun gue gak tahu apa yang terjadi dengan kedua anak sekolah itu, tapi setidaknya gue tenang karena mereka tidak jadi menonton film yang memang bukan untuk usia mereka.

Jujur, gue merasa salut dengan wanita yang komplain ke pihak bioskop begitu melihat ada sesuatu yang tidak benar. Gue juga salut bahwa pihak bioskop mengakui kesalahan mereka dan mau mengambil aksi dari komplain wanita tersebut. Kenapa gue gak seberani si wanita itu ya? Kenapa gue malah membiarkan sesuatu yang salah nyaris terjadi? Hmmff… jadi kesel sama diri sendiri (x_x). Tapi ya sudah lah, yang penting si anak sekolah itu tidak jadi nonton. Dan semoga next time gue bisa lebih berani untuk melakukan sesuatu jika memang melihat sesuatu yang tidak benar. And of course , semoga gue bisa mengurangi kesalahan gue dalam melakukan sesuatu yang tidak benar ;p

Dan tentunya gue juga berharap, pihak bioskop di seluruh Indonesia agar lebih memperhatikan usia yang diperbolehkan dalam sebuah film sebelum menjualnya kepada calon penonton mereka. Cobalah agar lebih concern untuk urusan batasan usia dalam sebuah film. Tentu tindakan bioskop ini juga harus didukung oleh kita-kita yang akan menonton sebuah film.

 

Gimana sih aturan menggunakan eskalator di stasiun?

Gimana sih aturan menggunakan eskalator di stasiun?

Sejak Februari 2017 gue menjadi anggota “roker” alias rombongan kereta. Harus gue akui pelayanan commuter line membaik dari pada yang sebelumnya gue tahu, sebelum gue di tugaskan ke Canberra tahun 2013 lalu.

Pada sekitar bulan Juli-Agustus 2017 lalu, eskalator hadir di Stasiun Tanah Abang , stasiun yang memang menjadi perhentian gue setiap harinya. Awalnya, gue pikir dengan kehadiran eskalator ini, maka alur keluar masuk penumpang dari dan ke stasiun akan menjadi lebih lancar dan lebih cepat. Tapi ternyata gue salah. Logika nya, memang kehadiran eskalator ini memang bisa mempercepat alir penumpang. Apalagi di tengah eskalator terdapat papan kuning bertuliskan “Penggunaan jalur kiri untuk berdiri/diam dan penggunaan jalur kanan untuk berjalan atau mendahului” yang dicetak dengan huruf besar berwarna hitam, yang menurut gue pribadi amat jelas dan mudah dibaca.

Tapi kenyataannya, susah sekali membuat orang-orang yang berada di jalur kanan untuk berjalan atau mendahului. Gue gak ngerti, mereka tidak membaca, mereka tidak peduli, atau mereka tidak mau tahu. Memang ada orang tua/sepuh atau wanita hamil yang mungkin memang akan merasa capek kalau harus berjalan seperti pada tangga biasa, oke gue paham, mereka silahkan berada di jalur kiri sehingga mereka tidak akan merasa lelah, tapi ya mohon jangan berada di jalur kanan.

Seringkali orang-orang yang berada di eskalator di stasiun ini diam, tidak bergerak sama sekali, tapi tidak mau pindah ke jalur kiri. Gue gak ngerti konsep yang ada di kepala mereka itu seperti apa. Melihat kondisi seperti itu, PT KCJ (PT KAI Commuter Jabodetabek) akhirnya melakukan semacam sosialisasi di stasiun dengan cara menempatkan petugas lengkap dengan alat pengeras di tangannya yang kemudian memberikan imbauan kepada seluruh pengguna eskalator di stasiun untuk mengikuti aturan penggunaan eskalator di stasiun tersebut. Namun sayang nya tetap saja ada yang tidak memperdulikan imbauan sang petugas meskipun sang petugas sudah berteriak-teriak sampai suara mereka serak.

Sempat suatu hari, salah satu ibu-ibu yang berdiri tepat didepan saya tidak mau berjalan meskipun saat itu kami berada di jalur kanan dan didepan si ibu anak tangganya kosong. Saya ingin mendahuluinya tapi tidak bisa, sang petugas pun sudah berteriak dan meminta si ibu untuk berjalan maju, si ibu pun tetap cuek, sampai saya akhirnya mengucapkan ‘permisi’ ke si ibu, dan si ibu tetap diam. Saya mulai kesal karena kenapa sih orang-orang susah banget menaati peraturan. Kalau gak mau taat peraturan, paling tidak jangan ngerepotin orang lain lah. Gue akhirnya colek si Ibu sambil mengucapkan “permisi bu, kalau mau diam di sisi kiri saja bu”. Setelah gue bilang begitu, si ibu pindah ke sisi kiri namun menatap gue dengan kesal. Lah… dia yang salah, dia yang nyolot ucap gue dalam hati.

Kemudian di hari lainnya, saat sosialisasi berupa petugas berteriak-teriak masih dilakukan, ketika gue memutuskan saat itu gue berada di jalur kiri karena gue lagi capek banget hari itu, ada wanita yang berdiri di jalur kanan berkata kepada temannya yang berada di jalur kiri (mereka berdiri bersebelahan), si wanita bilang “kalau tetep jalan, ngapain juga gue pakai eskalator”, mendengar ucapan seperti itu gue pun langsung menoleh ke wanita itu dan mencoba mengerti pola berpikirnya dia. Dan ternyata seorang laki-laki yang berada tepat didepan gue juga menoleh ke wanita itu dengan memberikan tatapan aneh yang gue asumsikan bahwa si laki-laki itu juga berpikiran sama dengan gue.

Intinya dalam postingan kali ini, gue cuma mau bilang, untuk menaati sebuah peraturan itu memang sulit. Gak semua peraturan itu lu nilai baik dan benar. Tapi pernah gak lu mikir akibat buat orang lain saat lu gak menaati peraturan? Kalau lu mengabaikan sebuah peraturan tapi yang kena dampak nagatif cuma diri lu sendiri sih ya gak pa pa, bisa dibilang, lu yang berbuat, lu yang bertanggung jawab. Tapi kalau lu gak menaati peraturan dan mengakibatkan orang lain diambil hak nya oleh lu, itu kan gak sopan namanya. Apa lu mau hak lu diambil orang lain?

Kalau menurut gue pribadi, eskalator yang ada di stasiun itu dibuat untuk memperlancar arus penumpang disana, sehingga gak terjadi penumpukan saat masuk dan keluar stasiun. Eskalator juga membantu orang yang lemah secara fisik sehingga tidak menggunakan tangga manual yang dinilai lebih melelahkan. Nah untuk mencapai kedua tujuan ini, mangkanya dibagi menjadi dua jalur, yaitu jalur kiri dan jalur kanan. Begitu sih menurut pendapat gue pribadi. Dan peraturan ini setahu gue bersifat universal kok, bukan hanya di Indonesia saja, meskipun memang untuk di Indonesia jalur kiri yang berhenti dan ada di negara lain jalur kanan yang berhenti. Intinya satu jalur berhenti, dan jalur lainnya berjalan.

 

 

Apa kalian mungkin punya pendapat lain?

 

 

Pemimpin?

Menjadi atasan bukanlah pekerjaan mudah. Gue tahu persis tentang itu, meskipun memang gue belum pernah menjadi atasan yang memangku jabatan tertentu (yet!) 😉

Tapi sebagai anak buah yang di pimpin, gue menemukan beberapa kelakuan pemimpin yang kurang menyenangkan berdasarkan pengalaman pribadi gue.

1. Pemimpin yang kurang memikirkan nasib anak buah nya.

Menjadi seorang pemimpin, menurut opini gue, harus mampu memikirkan nasib anak buahnya. Nasib yang gue bicarakan disini bukanlah hanya dari segi financial saja, tapi juga masalah pengembangan kemampuan anak buahnya. Tidak sedikit pemimpin yang hanya berfikir : “yang penting anak buah bisa mengerjakan apa yang gue perintahkan”. Tapi menurut gue, kadang pemimpin lupa bahwa bisa belum tentu berarti mampu. Maksud gue, memang si anak buah bisa mengerjakan apa yang diperintahkan oleh si pemimpin. Tapi apakah itu sudah hasil yang terbaik? Kenapa pemimpin jenis ini tidak memikirkan tentang pengembangan kemampuan anak buahnya? Bukankah hasil yang diperoleh akan lebih baik jika pemimpin secara terus menerus mengembangkan kemampuan anak buahnya? Yah… biarpun gue paham, kadang beberapa pemimpin berpikir : “kalau anak buah gue nambah pinter dan bisa berdiri sendiri, nanti dia malah ninggalin gue. Gue juga yang bakal repot”.

2. Pemimpin yang terlalu kelihatan mengejar pamor dan uang.

Pemimpin jenis ini hanya memikirkan uang dan nama baik untuk dirinya sendiri. Sehingga kaang dia lupa memikirkan kesejahteraan bawahan nya. Dia hanya memikirkan, dirinya, dirinya, dan dirinya sendiri.

3. Pemimpin yang tidak mempunyai perencanaan dalam berorganisasi.

Pemimpin jenis ini menjalankan organisasi tanpa arah. Tanpa visi dan misi. Seolah kalau dalam hubungan kisah kasih, dia adalah pihak yang berkata : “jalanin aja dulu”. Menurut gue, bagaimana organisasi bisa berjalan kalau pemimpinnya terlalu “cair” dalam menjalankan organisasi. Semua serba liat nanti. Semua serba fleksibel. Semua serba dijalanin aja dulu. Gak jelas.

4. Pemimpin yang tidak berlaku fair

Nah, beberapa pemimpin terkadang suka aneh dalam melakukan penilaian terhadap anak buahnya. Pemimpin kadang suka gagal melihat mana anak buahnya yang benar-benar bekerja dengan baik dan mana anak buah yang hanya cari muka saja. Tidak sedikit pula pemimpin yang aneh kalau menurut gue. Aneh karena si pemimpin terus menerus menambahkan beban pekerjaan kepada anak buah yang dia anggap mampu dan tidak memberikan pekerjaan sama sekali kepada anak buah yang dia anggap kurang mampu dalam mengerjakan pekerjaannya. Tapi menurut gue ini gak fair. Kenapa yang kerja baik jadi overload, tapi yang gak bisa kerja malah jadi bisa ongkang-ongkang kaki. Kalau menurut gue, ya sekalian aja pecat atau beri sangsi terhadap anak buah yang gak bisa kerja itu. itu akan lebih fair. Menurut gue lho ya.

Sejauh ini, ya itulah beberapa kelakuan pemimpin yang kurang menyenangkan yang pernah gue alami. Mungkin masih banyak lagi orang diluar sana yang menemukan yang lebih aneh lagi. Ada yang punya pengalaman bekerja dengan atasan yang kurang menyenangkan?

Not Pretty Enough – by Kasey Chambers

Sebenarnya ini lagu udah lama banget (ternyata). Dan gue baru tahu ini lagu pas lihat acara The Voice Kids Australia 2014. Hehe gak up to date banget ya gue. Tapi entah kenapa jadi mulai suka aja sama lagu ini. Dan ini lirik lagu nya :

Am I not pretty enough
Is my heart too broken
Do I cry too much
Am I too outspoken

Don’t I make you laugh
Should I try it harder
Why do you see right through me

I live, I breathe, I let it rain on me
I sleep, I wake, I try hard not to break
I crave, I love, I’ve waited long enough
I try as hard as I can

Am I not pretty enough
Is my heart too broken
Do I cry too much
Am I too outspoken

Don’t I make you laugh
Should I try it harder
Why do you see right through me

I laugh, I feel, I make believe it’s real
I fall, I freeze, I pray down on my knees
I hope, I stand, I take it like a man
I try as hard as I can

Am I not pretty enough
Is my heart too broken
Do I cry too much
Am I too outspoken

Don’t I make you laugh
Should I try it harder
Why do you see right through me

Just curious

Apakah orang yang sedang jatuh cinta selalu ingin bertemu dengan orang yang disukainya?

Apakah orang yang sedang jatuh cinta selalu ingin berkomunikasi dengan orang yang disukainya?

Apakah orang yang sedang jatuh cinta selalu ingin mengetahui kabar dan aktivitas orang yang disukainya?

Atau justru kalau melakukan hal-hal diatas, malah dibilang posesif?

Atau malah dibilang berlebihan?

Atau malah dibilang weird ?

Thank You Boss!!!

thank-youBeberapa hari yang lalu gue ada acara kantor sampai malam. Acara tersebut baru selesai sekitar jam 10 malam. Pas di jalan pulang ke rumah, ban gue kempes. Sepertinya sih gue nggak nyadar melindas sesuatu. Paniklah gue, udah malam, udah nggak ada angkutan umum, dan jalanan sepi pula. Gue langsung nelfon asuransi gue yang menyediakan layanan Roadside Assistance. Unfortunately, sambungan itu lamaaaaaaa banget nggak diproses-proses. Gue pun semakin cemas, karena sudah hampir jam 11 malam. Entah kenapa disaat panik begitu, nama boss gue yang langsung teringat di kepala. Gue pun mencoba menghubungi si boss dengan harapan beliau bisa dan bersedia nolongin gue.

Tuutt…. tutt…. nada sambung mulai terdengar. Gak lama kemudian, terdengar jawaban

“Ya Nad?”

“Pak, ban mobil nadia kempes”

“Lu dimana?”

“Di depan sekolah A”

“Ok, gue kesana”

Dan dalam waktu kurang dari 15 menit, boss gue dateng bowww….

Seneng banget gue pas ngeliat dia dateng. And you know what? Akhirnya dia dong yang nolong ngegantiin ban gue yang kempes. Dia ngedongkrak dan ganti ban dengan kostum batik lengan panjang, karena beliau juga baru pulang dari acara kantor yang sama dengan yang gue hadiri malam itu. Huwaaaa…. bahagia banget gue. Ternyata boss yang selama ini dianggap “killer” sama beberapa orang, malah jadi malaikat penolong gue hari itu. So, sekarang, kalau dia mulai agak menyebalkan tentang pekerjaan kantor, gue harus nahan diri untuk nggak bete-bete banget, karena bagaimanapun, dia bisa cukup gue andalkan saat gue membutuhkan bantuan. Thank you boss!!! 🙂

Note : dan si boss juga nge escort gue dong sampai gue nyampe di komplek tempat tinggal gue 😀

New Soundtrack

Yovie and The Nuno – Tak Memilikimu

bulan katakan, katakan padaku
sungguhkah dirimu kan bersinar terang
terangi jalanku, jalanku untukmu
dan yakinkan aku sang pemilik hatimu

tapi kenyataan kamu masih dengannya ouh…

meskipun cintamu hebat,
meskipun engkau tak bisa tanpa aku
namun hatiku tak sanggup bertahan
aku tak memilikimu

sampai kpn kah harus ku menunggu
menunggu dirimu melepaskan dirinya
adakah salah bila ku meragu,
meragukan kamu sungguh inginkan aku

tapi kenyataan kamu masih saja dengannya ouh..

meskipun cintamu hebat,
meskipun engkau tak bisa tanpa aku
namun hatiku tak sanggup bertahan
aku tak memilikimu

lebih baik aku yang harus pergi
bila tak jelas begini
aku tak bisa dustai hatiku
kau tak sepenuhnya untukku
wooo…

meskipun cintamu hebat,
meskipun engkau tak bisa tanpa aku
namun hatiku tak sanggup bertahan
aku tak memilikimu

meskipun cintamu hebat,
meskipun engkau tak bisa tanpa aku
namun hatiku tak sanggup bertahan
aku tak memilikimu

Tak ada kuasa akan rasa
Walau kadang membuat tersiksa
Kenapa hati memilih dia
Dia yang sudah berdua

Ingin sekali mengubur rasa
Dalam, tenggelam, hingga tak bersisa

Tapi apa daya saat hati bicara
Saat rasa menggelora
Saat rasa begitu membara

Ingin ku berpaling darinya
Tapi hati enggan meninggalkannya

Oh rasa, menghilanglah
Aku tahu ini salah
Aku tahu ini akan mengakibatkan luka
Dan bukan akan berakhir suka

Losing Control

When people in love, they just see what they want to see, hear what they want to hear, and believe what they want to believe” –NN-

1272590838poems_15Gue mendengar kalimat itu dari salah satu film yang gue tonton beberapa hari yang lalu (lupa judul film nya). Dan sepertinya itu ada benarnya.

Gue saat ini mungkin sedang berada di posisi seperti apa diungkapkan pada kalimat diatas. Terkadang gue berfikir, “Am, I losing my mind?”.

Kelakuan gue belakangan ini mulai absurd. Beruntung gue masih punya teman-teman yang bersedia mendengarkan dan menasehati meskipun gue mulai bebal dan seringkali gagal melakukan apa yang mereka sarankan dan anjurkan.

Gue merasa bingung dengan diri gue sendiri. Kadang gue merasa mulai kehilangan kontrol dengan diri sendiri. Sounds crazy right? Tapi itulah yang terkadang gue rasakan. Bukankah merasakan jatuh cinta seharusnya memberikan rasa bahagia? Tapi kenapa rasa ini malah terkadang menyusahkan gue. Kenapa gue harus menyukai orang yang salah? Kenapa gue harus menyukai disaat yang tidak tepat? Kenapa gue terjebak di situasi seperti ini?

Ah, mungkin gue yang lebhay. Tapi suara di dalam kepala terus menerus bertengkar tanpa memperdulikan gue sebagai si pemilik otak. Di satu sisi otak berkata “He made me feel loved and wanted”, tapi disisi yang lain berkata “Come on… he already has someone” Suara itu terus sahut menyahut tanpa memperdulikan gue dan hati gue yang semakin tidak karuan. Sighhh!!!. But of course the cold reality was he was not mine, he belonged to someone else and I had no place in his life.

Saat gue yakin untuk menjauh, dia datang, dan semua benteng pertahanan yang sudah susah payah gue bangun, runtuh begitu saja. Saat gue mencoba untuk tidak menghubungi, dia menghubungi dan gue tidak bisa untuk tidak menjawab panggilan itu. Ah, gue kenapa? Kenapa gue tidak bisa mengontrol diri. Gue tahu ini masalah hati. Tapi hati ini kan punya gue. Bukannya harusnya gue bisa mengontrol semuanya?