Singapore oh Singapore (Day 2)
Argghh… bunyi berisik apa ini? Dengan terpaksa gue berusaha membuka mata gue karena bunyi berisik itu tak kunjung berhenti dan mulai mengganggu pendengaran gue. Gue pun berusaha bangun dan mencari sumber bunyi. Ternyata itu alarm bangun pagi gue, hehe
Jam sudah menunjukkan tepat jam 7 pagi. Gue harus siap-siap buat jalan-jalan nih. Dengan semangat gue pun pergi mandi. Beberas n beberes, akhirnya jam setengah 8 pagi gue udah rapih jali dan siap untuk kelayapan
Jam setengah 8 pagi tepat breakfast di hostel telah disediakan, di bagian dapur mereka. Breakfast di hostel rada unik ternyata. Pihak hostel menyediakan roti tawar, toaster, mentega, selai stroberi, gula pasir, krimer, teh, air panas dan coffemix. Kita tinggal buat sendiri deh sarapan kita dari bahan-bahan yang disediakan.
Gue memutuskan untuk makan roti tawar isi mentega dan gula pasir plus the manis hangat. Setelah selesai membuat sarapan, gue harus membawa sarapan gue ke tempat makan yang berada di luar di sisi samping hostel. Di hostel itu ada larangan makan di dalam hostel, baik di dapur maupun dikamar, jadi kalau mau makan ya harus makan disisi samping hostel itu, diluar ruangan.
Selesai makan, gue pun kembali ke kamar dan menyiapkan itinerary gue buat hari ini dan nggak lupa bawa peta pastinya, belum tentu juga sih tu peta bakalan dibaca, tapi paling nggak buat menenangkan hati aja, hehe
Tujuan pertama gue hari ini adalah Malay Heritage Center atau yang katanya juga di kenal dengan nama Istana Kampong Glam. Gue pun jalan kaki menuju tempat itu. Tapi ternyata hai ternyata, pas nyampe sana, gedungnya lagi di renovasi. Jiah… sia-sia deh jalan kaki gue.
Dari sana, gue bergerak menuju Masjid Sultan yang nggak jauh dari sana. Masjid Sultan ini tergolong salah satu place of interest di Singapura karena usia masjid ini sudah cukup tua. Arsitektur bangunannya khas melayu. Kalau bagian dalamnya sih menurut gue ya nggak beda sama masjid yang umumnya kita jumpai sih. Oh ya, satu hal yang menurut gue menonjol dari masjid ini selain dari arsitektur bangunannya adalah, tempat wudhunya. Tempat wudhunya bersih euy. Tempat wudhunya terdiri dari 2 sisi, yang satu tempat wudhu biasa, sisi yang satunya tempat wudhu yang ada tempat duduknya. Mungkin sih menurut gue, itu tempat duduk ditujukan untuk jamaah yang sudah berumur yang tidak kuat berdiri lama untuk berwudhu. Oh ya, di sini juga ada toiletnya, dan disini lah akhirnya gue menemukan toilet yang ada semprotan airnya (bukan tissue toilet aja). Dan sebagai tambahan informasi, toiletnya bersih abis.
Selesai melihat-lihat masjid sultan dan mampir beli minuman ringan, gue pun melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah Merlion Park. Kali ini nggak pake jalan kaki, tapi pake MRT (Mass Rapid Transportation) yang memang menjadi sarana transportasi utama bagi masyarakat Singapura. Gue bergerak dari stasiun MRT Bugis (EW12) menuju stasiun MRT Raffles Place (EW14/NS26). Ada beberapa hal yang gue kagumi dari MRT ini. Pertama, stasiunnya bersih. Semua orang mentaati peraturan untuk tidak makan dan minum di stasiun maupun didalam MRT. Kalau melanggar, dendanya beuhh bisa bikin dompet jebol sejebol-jebol nya. Kedua, peta arah MRT disediakan dengan jelas dan gue rasa setiap orang bisa membaca dan mengerti isi petunjuk arah itu. Ketiga, mesin pembelian tiket dan mesin top up nya disediakan cukup banyak, jadi nggak harus ngantri panjang kalau mau beli tiket. MRT pun datang nyaris setiap 3 menit sekali, jadi kalau ketinggalan pun, paling lama juga nunggu 3 menit akan ada kereta yang berikutnya. Jadi berkhayal Indonesia juga bisa memiliki transportasi kayak begini.
Setelah nggak nyampe 2 menit, akhirnya tiba di Stasiun Raffles Place. Dari sana, keluar ngikutin panah arah Battery Road. Dari Battery Road lanjut ke jalan Fullerton Square trus belok kiri ke arah depannya Hotel Fullerton, Hotel yang arsitektur bangunannya menurut gue okay banget, melewati depat hotel yang parkirannya dipenuhi dengan mobil-mobil mewah yang teronggok disana. Di depan hotel langsung nyebrang ke depannya. Dan ketemulah yang namanya Merlion Park.
Merlion Park ini adalah tempat beradanya Patung Merlion (Patung Singa) yang menjadi icon dari Negara Singapura. The Merlion ini didirikan tahun 1972 sebagai simbol selamat datang bagi semua pengunjung yang datang ke Singapura.
Cukup lama gue menghabiskan waktu di merlion park ini. Mulai dari foto-foto patung singa, Foto-foto Marina Bay Sands yang tepat berada di seberang tempat ini. Dan sedikit nengok-nengok isi One Fullerton yang ada tepat di sebelah taman ini.
Dari Merlion Park, gue melanjutkan perajalanan gue ke Esplanade. Hanya berjalan sekitar 300 meter. Esplanade ini adalah semacam gedung berbentuk buah durian yang digunakan untuk pertunjukan seni, seperti teater dan pertunjukan musik. Ada panggung di dalam gedung dan panggung di pinggir sungai nya. Ada juga Esplanade Park disana. Dan tetep ya namanya Singapura, city of mall, di komplek ini juga ada esplanade mall nya.
Dari sini gue berniat untuk mengunjungi Suntec Fountain of wealth yang katanya merupakan fountain besar yang dibuat dengan menggunakan ilmu feng shui. Katanya sih kalo ngelilingin fountain ini bakal have a good fortune gitu dey.
Gue berjalan kaki ke sana. Di tengah jalan menuju kesana, tiba-tiba gue melihat rambu “No Pedestrian”. Nah lho, terus gue harus lewat mana? Padahal trotoar lebar masih panjang kok gue lihat di depan gue. Gue tengak-tengok kanan-kiri berniat barangkali ada warga sana yang bisa gue contek. Tapi mungkin karena memang hari kerja dan jam kerja, jadi nggak ada siapa-siapa yang bisa gue contek deh. Jujur, gue mah rada takut aja kalo ngelanggar peraturan di Negara orang. Entah kenapa rasanya lebih berbahaya aja. Akhirnya gue pun memberanikan diri untuk tetap berjalan di trotoar itu sambil melihat rambu yang ada dan mencari keberadaan polisi yang mungkin bisa gue tanya. Nggak lama gue jalan, ada rambu lagi. Inti rambu itu sih, pedestrian harus lewat underpass ke arah yang diberikan pada rambu itu. Ya sudah, gue ikutin aja arah panah itu. Gue masuk ke underpass yang sepi banget saat itu. Di dalam underpass itu ada beberapa jalan keluar. Nah lho, gue bingung gue harus keluar kearah yang mana. Gue intip peta, ya catat “intip” karena gue nggak mau kelihatan kayak orang yang tersesat. Nggak tahu jalan tapi tetep sombong nggak mau nanya and ngaku, hehe :p
Akhirnya gue nemuin jalan yang harus gue lewati. Gue pun keluar sesuai dengan nama yang tertera di papan petunjuk itu. Setelah keluar dari underpass, gue melihat sekeliling dan penasaran gue itu tadi dibawah ngelewatin jalan yang mana. Pas gue lihat-lihat lebih lanjut, ternyata gue make underpass itu cuma buat nyeberang jalan. Aduh please deh, kenapa nggak pake zebra cross aja sih. Ternyata di Jakarta pake jembatan penyebrangan, disana make underpass
Ternyata perjalanan ke fountain of wealth itu cukup membingungkan buat gue. Tapi akhirnya ketemu juga sih. Tapi pas nyampe disana, betttee deh, tu air mancur cuma nyala di bagian tengah yang kecilnya doank. Yang bagian luar yang besarnya lagi nggak dinyalain, payoye dah ah. Ini gue ada photonya. Buat yang kalo bagian besarnya lagi di nyalain, mendingan kalian googling aja deh, hehe
Udah jalan lumayan jauh, panas pula, ehh… yang didapat tidak seperti yang dibayangkan. Akhirnya dari pada bête nya nambah, gue mampir dulu deh di starbucks deket sana untuk ngerenggangin kaki gue yang udah mulai pegel sambil melihat rute untuk tempat selanjutnya.
Sudah cukup istirahatnya. Gue pun melanjutkan perjalanan menuju Asian Civilization Museum. Gue naik MRT dari Stasiun City Hall menuju Stasiun Raffles Place (padahal setelah gue cek ulang, jalan kaki juga masih bisa ternyata (doh)).
Tiba di stasiun Raffles Place, gue pun berjalan ke arah Hotel Fullerton bagian belakang. Gue menyebrangi jembatan yang gue lupa namanya, hehe
dan langsung ketemu deh museumnya. Museumnya bagus. Keliling lihat-lihat sebentar, dan gue lanjut menuju Victoria Theatre & concert Hall yang berada di sebelahnya. Bagian luar gedung ini sih oke, tapi ternyata bagian dalamnya sedang di renovasi ulang, jadi cuma foto bagian luarnya aja deh. Dari sini gue menuju Old Parliament House. Tinggal jalan dikit doank kok. Gedung ini dipercaya sebagai gedung pemerintahan tertua disana. Tapi pas gue mau masuk, ternyata bagian bawahnya sudah berupa restoran. Dan disisi lainnya ada The Arts House tempat memamerkan karya seni dan belajar seni.
Dari Old Parliament House gue menuju Boat Quay yang juga nggak jauh dari sana. Boat Quay merupakan tempat pinggir sungai yang dipenuhi jajaran tempat makan disisi sungai itu. Banyak tempat makan beraneka makanan disana. Tapi gue ragu untuk makan disana, takut ada yang nggak halal. Gue pun cuma jalan melintas sana untuk merasakan ambience nya aja. Kebetulan pas gue lewat sana lagi tepat jam makan siang, jadi cukup rame suasana disana siang itu.
Pas lagi jalan di Boat Quay, gue melihat ada tukang dagang pinggir jalan yang menjual air mineral, gue mampir beli dulu ah. Kebetulan disana lagi ada bule (turis juga kayaknya sih) yang lagi beli minum juga. Gue pun menunggu giliran gue. Ternyata, si bule dan si pedagang yang adalah enci-enci cina yang sudah tua dengan Singlish (Singapore-English) seadanya, sedang melakukan Tanya menanya harga dengan bahasa hutan alias bahasa tubuh. Si enci nggak ngerti-ngerti banget si bule ngomong apa, dan si bule juga ora mudeng si enci ngomong apa. Gue sih sabar menanti giliran aja, sekalian seneng ngeliat ada lenong gratis, hehe
Akhirnya karena si bule masih bingung berapa harga minuman yang akan dia beli itu, akhirnya si bule mengeluarkan semua uang logam yang ada dikantong celananya dan menyuruh si enci mengambil sendiri sesuai dengan harga minuman itu. Si enci ternyata mengerti apa yang diminta bule itu, dia pun mengambil uang sesuai dengan harga minuman.
Ternyata transaksi bisa berlangsung dengan bahasa tubuh, hehe
Setelah transaksi mereka selesai, si Bule rese’ malah nanya ke si enci “Apa bahasa Singapur-nya thank you”. Nah si enci jadi keder lagi kan. Karena si enci sudah males menanggapi, akhirnya dia pun mengalihkan perhatiannya ke gue dan menanyakan gue mau beli apa. Si bule, karena merasa dicuekin sama si enci, jadilah dia malah nanya ke gue. Ya gue bilang aja gue juga bukan orang Singapura. Dan gue bilang aja “Lo bilang thank you juga semua orang ngerti”. Eh si Bule malah nanya-nanya alamat hotel sama gue. Lah… mana gue ngarti. Eh dia malah nanya : “Emang udah berapa lama tinggal disini”. Pas gue jawab : “One day” dia jadi ketawa deh, kayaknya dia baru sadar bahwa nanya ke orang yang baru satu hari di sini mah ya bakalan nggak tahu apa-apaan :p
Dari Boat Quay gue melanjutkan perjalanan gue ke Orchard Road. Orchard Road yang kalau kata orang-orang yang udah pernah ke Singapura sih, it’s a must place to see.
Kembali lagi menggunakan MRT menuju Orchard Road. Begitu tiba di Orchard Road, jrengg…. Barisan mall berjajar disana. Mulai dari mall mewah sampai mall standar. Ion Orchard adalah salah satu mall yang menjual barang-barang bermerek, such as Dior, LV, Hermes, dan masih banyak lagi deh. Trotoar disini memang lebar banget, sepertinya memang disiapkan supaya orang bisa berjalan dengan leluasa dan memilih tempat belanja mereka. Disini juga cukup banyak coffee shopdan restoran cepat saji yang tersedia, beberapa diantaranya malah buka 24 jam. Oh iya, saat gue kesini, hiasan-hiasan natal sudah mulai terpasang, apalagi pas menjelang hari natal nya ya, pasti bakalan meriah banget.
Setelah puas berkeliling Orchard Road dan menyambangi beberapa mall yang ada, yang menurut gue sama aja sama mall-mall yang ada di Jakarta, gue pun bergerak menuju China Town. Ada beberapa tempat yang memang gue rencanakan untuk gue datangi disana.
Hanya dalam waktu beberapa menit, gue pun tiba di China town. Begitu gue keluar dari stasiun MRT, gue langsung disambut jajaran tukang dagang kaki lima yang ada disana. Jujur gue sangka gue salah pintu keluar, habis begitu keluar escalator, suasananya langsung meriah banget. Mulai dari orang-orang menjajakan aksesoris, pajangan-pajangan kecil, makanan, baju, pokoknya rame banget deh.
Tujuan pertama gue adalah Chinatown Heritage Center. Gue mencoba mencari jalan ditengan keramaian itu. Keramaian yang nyaris menutupi jalan yang ada sehingga gue nggak yakin jalan mana yang harus gue lalui. Gue pun gagal menemukan tempat itu. Ya sudah, gue pun akhirnya mencari Sri Mariamman Temple. Kuil tempat orang india beribadah gitu deh. Ketemu! Kuilnya cukup besar, untuk masuk kesana harus membuka alas kaki. Tapi untuk mengambil foto dan video, dikenakan biaya. Kalau nggak salah baca sih, S$ 3 untuk ngambil gambar dan S$ 7 untuk ngambil video. Ah, berhubung budget minim, gue liat-liat aja deh, nggak usah ngambil gambar apapun. Lagipula, perasaan kalau googling juga udah banyak kok gambarnya disana :p
Dari kuil itu, gue menuju Masjid Jamae yang nggak jauh dari sana. Gue nggak menemukan sesuatu yang spesial disana, selain usia masjid itu yang keliatannya sudah cukup tua. Selebihnya, sama seperti masjid pada umumnya kok kalau menurut gue sih.
Setelah selesai melihat-lihat China Town yang penuh dengan kaki lima dan toko-toko, gue pun memutuskan untuk kembali lagi ke Merlion Park. Karena dari informasi yang gue dapat, setiap jam setengah delapan malam, akan ada pertunjukan air mancur dan laser light di Marina Bay Sand yang cukup menarik untuk dilihat dari Merlion Park yang berada tepat diseberangnya.
Sekitar jam 7.15 pm gue tiba di Merlion Park. Gue beli minum dan duduk di tangga taman yang ada disana menunggu waktu pertunjukan itu dimulai. Gue menunggu cukup lama. Gue lihat jam tangan gue, ternyata sudah tepat jam 8 malam. Kok nggak ada ya? Apa jangan-jangan karena mendung? Cuaca malam itu memang sedikit mendung seperti nyaris mau hujan malah. Ah ya sudah lah, mungkin memang nggak ada. Gue pun berniat untuk kembali ke hostel. Baru aja gue mau pergi dari sana, tiba-tiba saja suara music terdengar. Gue langsung menengok kea rah datangnya suara, ternyata pertunjukannya dimulai, dan waktu udah menunjukkan jam 8.05 pm. Yey, akhirnya berhasil juga ngeliat pertunjukan ini. Sound systemnya kedengaran bagus di Merlion Park, apalagi kalau di marina bay Sand nya ya, pasti lebih ok lagi.
Pertunjukkan ini menampilkan tata laser yang ok banget kalau menurut gue pribadi. Langit dan sungai yang menjadi penghubung antara Merlion Park dan Marina Bay Sand dipenuhi sinar laser berwarna hijau dan putih yang menyilaukan dan indah. Belum lagi air mancur menari yang terlihat dari kejauhan sedang menari dengan indahnya di Marina Bay Sand. Achhh… suka. Sayang pertunjukan ini hanya berlangsung sekitar 10 menit saja. But that’s ok, setidaknya gue nggak sia-sia nunggu
Setelah selesai, gue langsung kembali menuju hostel. Melewati Fullerton Buiding yang kalau malam ternyata terlihat lebih cantik.
Eh iya, tapi mampir makan malam dulu deng di tengah jalan. Malam itu gue makan semacam sandwich, tapi rotinya bukan roti tawar, roti kering gitu lah. Pokoknya nama restoran cepat saji nya ‘Subway’. Porsinya lumayan gede. S$ 6 udah dapet sandwich, coke guedde, plus 2 cookies yang enak ternyata
Perut udah full, sampe hostel langsung beberes, terus tidur deh….
*ternyata panjang juga ya tulisan yang ini
*



















December 12, 2011 at 2:11 pm
huuuuuuu, jadi pengen kesana
December 12, 2011 at 6:32 pm
hayoo… berburu tiket murah