Alhamdulillahhhh…..
akhirnya tugas akhir diklat tahap I gue kelar. Senangnya… setidaknya setelah satu bulan berkutat dengan semua tugas akhir yang menjemukan, bikin marah, bikin berantem, bikin naik darah, pokoknya cukup banyak lah keluhan yang gue alamin saat itu. Tapi sekarang semuanya sudah lewat. Lucky me. Memang sih, pasti akan ada lagi halang rintang selanjutnya. tapi setidaknya untuk sekarang, gue udah bisa bernafas lega. Semua sesak dan amarah yang ada luntur juga. Memang sulit mengerjakan tugas berkelompok. ada aja slek-nya. tapi it’s done and done. so just try to forget it. sudah lah, nggak usah diperpanjang. toh sekarang semuanya sudah selesai dan berakhir dengan baik.
Dan makasih ya buat semua yang udah doain gue. Love you :D

2Hmfff… susahnya kerja kelompok. Pasti ada aja titik nggak ketemunya. Tenggang rasa teramat sangat diperlukan dalam proses kerjasama ini. Tapi tenggang rasa bukan berarti harus selalu mengalah kan? I already to understand you, but why you keep pushing on me like you are a GOD who always right for all things you have.

Terkadang gue ingin marah, ingin meledak rasanya. Tapi ini sebuah pertemanan. Apakah pertemanan harus hancur karena selisih pendapat dalam kerja kelompok? Gue merasa sayang kalau sampai pertemanan ini hancur. Tapi, kalau tetap seperti ini, gue sendiri yang merasa sesak. Rasa sesak ini pulalah yang akhirnya membuat gue malas berbicara dan bertemu dengan mereka. Gue khawatir, kalau gue banyak bicara atau sering bertemu mereka, gue bakal meledak dan malah akhirnya akan membuka perang.

Saat ini gue merasa asing dengan kalian. Gue merasa, kalian yang biasanya mengerti apa yang gue rasakan, saat ini, kalian knows nothing about me.

Gue harus bertahan. Setidaknya sampai semua ini selesai. Sampai semua tugas ini beres. i should fight to against this feeling. Gue nggak mau semua tugas ini gagal hanya karena gue merasa kecewa dengan kalian. Gue harus mencoba untuk bertahan walau rasa kesal sudah hampir diujung kepala. i’ll try.

Semoga, saat semua tugas ini selesai, gue dan kalian masih bisa berteman normal kembai seperti sebelumnya. Hope so.

aApa ada yang salah ya sama gue? Gue merasa, semakin bertambah usia gue, kenapa justru teman yang benar-benar teman yang gue miliki semakin sedikit jumlahnya. Gue merasa, makin bertambah usia seseorang, mereka makin sibuk dengan urusan hidupnya masing-masing, apalagi jika mereka sudah berkeluarga. Hmm, memang sampai saat ini gue belum berkeluarga seperti sebagian besar teman-teman gue yang rata-rata sudah berkeluarga. Setelah mereka berkeluarga dan mulai menempuh kehidupan yang baru, gue merasa hubungan gue dengan mereka tidak bisa sedekat seperti waktu dulu kami masih sama-sama ’single-fighter’. Gue bisa memahami hal itu. Sangat bisa. Memang terkadang gue merasa sepi dan sendirian, tapi alhamdulillah so far gue masih baik-baik saja. Tapi saat gue bertemu dengan orang-orang baru, dimana berarti pertemanan kami dimulai dengan umur kami saat ini, gue merasa mereka itu berbeda dengan teman-teman gue waktu sekolah dulu. Gue merasa mereka hanya berteman seadanya. Maksud gue, kami tidak terlalu terikat secara emosional. Maksud gue disini, dulu, rata-rata teman-teman gue berada disaat gue susah dan senang, begitu pun gue buat mereka. Tapi, teman-teman baru yang gue temui saat usia segini, kenapa berbeda ya? Maaf, gue harus berkata, beberapa diantara mereka itu palsu. Mereka terkadang terlihat begitu menyukai gue didepan mata gue. Tapi, justru gue mendengar dari orang lain bahwa dia menjelekkan gue dibelakan gue? Memang awalnya gue tidak terlalu memusingkan masalah itu. Tapi kok kelamaan yang berbicara seperti itu bukan hanya 1-2 orang. So, mau gak mau gue mulai mempercayai hal itu. Beberapa teman gue saat ini, menurut gue, membingungkan. Gue merasa, apa yang mereka sampaikan ke gue, terkadang bukan yang mereka maksud. Teman gue yang dulu, jika mereka berkata “tidak” ataupun “iya”, itu semua sesuai dengan kemauan mereka dan apa yang ada di hati mereka. Tapi yang saat ini, terkadang perkataan mereka tidak sesuai dengan apa yang ada di hati mereka. Dan entah kenapa, saat temen gue yang dulu “bullying me because of my body size”, gue tidak merasa tersinggung sedikitpun. Karena gue tahu persis mereka itu memang sedang bercanda, atau justru mengatakan hal itu supaya gue mau diet guna memperbaiki diri gue. Tapi saat teman baru gue yang berbicara mengenai hal itu, entah kenapa, gue merasa diolok-olok dan terasa begitu menyakitkan hati. Ingin rasanya gue membalas dengan berkata : “Emang kalau badan gue gede begini, gue nyusahin lo? gue juga nggak minta makan sama lo!”. tapi gue masih memikirkan perasaan mereka. gue nggak mau membuka perang. Gue mau semuanya baik-baik saja. Tapi kalau mereka terus menerus seperti itu, lama-lama nggak tahan juga gue. Mendingan gue hidup sendiri dan merasa bahagia. daripada gue terlihat memiliki banyak teman, tapi diantara mereka malah justru menyakitkan hati gue dan seringnya membuat dada gue terasa sesak. Apa memang iya, tambah usia, tambah sulit mencari teman yang benar-benar teman?

Saat lo ngerasa down. Saat lo kehilangan rasa percaya diri lo. Saat lo ngerasain lo banyak banget kekurangannya. Saat lo merasa tidak sepandai orang-orang disekeliling lo. Saat lo merasa tidak seindah orang-orang di sekeliling lo. Mungkin pada saat-saat seperti itulah lo mulai merasa desperate.
Ada salah satu mptivator yang bilang, “You are what you think”. Tapi entah kenapa, terkadang saat mencoba untuk membangun keyakinan terhadap diri sendiri, terkadang rasa tidak mampu itu datang. ‘Rasanya gue emang lebih jelek deh dari dia’, ‘rasanya gue emang lebih nggak pinter deh dari dia’, ‘rasanya dia lebih pintar deh dari gue’, perasaan-perasaan seperti itu terkadang datang tanpa diundang. Saat kita berusaha keras untuk memperbaiki diri sendiri, saat itu pula lah perasaan-perasaan ini datang melumpuhkan semua daya dan upaya yang sedang kita kerjakan. Orang bijak bilang, “kalau kamu niat, semua itu bisa dilakukan. Yang harus benar-benar diyakini adalah, kamu punya keinginan kuat disertai dengan niat yang teguh”. Hal itu memang ada benarnya, tapi terkadang saat lingkungan sekitar sehari-hari kurang mendukung, segala upaya kita dalam 1000 malam dapat diruntuhkan hanya dalam satu malam saja. Jadi harus bagaimana ya???

Insyaallah besok lebaran. Nggak terasa sudah sebulan penuh menjalankan puasa. Biarpun gue tahu persis, masih banyak kekurangan puasa gue di tahun ini. But at least, i’ve tried. Senang juga sih mau ketemu lebaran lagi. Bisa ketemu keluarga yang selama ini sudah lumayan jarang ketemuan.

Dan gue berharap, semoga setelah lebaran tahun ini, gue bisa menjadi orang yang lebih baik. Nggak usah dalam lingkungan yang luas. Setidaknya, gue berharap, gue bisa jadi anak yang lebih baik di keluarga gue. Memang gue kadang terlalu emosian, terlalu cepat marah, dan terlalu cuek untuk beberapa hal. Tapi jujur, gue nggak ada niat untuk menyakiti orang rumah.

Bokap n kakak gue :  maafin ya klo gue banyak salah selama ini.
Keluarga : Mohon maaf lahir batin
All friends : Guys, maafin gue ya. Mungkin kadang gue nggak sengaja nyakitin hati kalian. Maaf ya…

Mari bersihkan hati dengan saling memaafkan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H :-)

Have you ever wants to give up on something?

Saat lo ngerasa jenuh, capek dan lelah dengan keadaaan yang ada, terkadang rasa ingin menyerah itu datang. Rasa itu tidak diundang, tapi tiba-tiba saja datang dalam kehidupan kita. Rasa ingin menyerah itu menghantui hari-hari kita. Terkadang kita menyadari bahwa semua itu salah, kita nggak boleh menyerah. Hidup ini memang keras jenderal. Tapi sulit sekali untuk keluar dari bayang-bayang keputusasaan itu. Kadang kita tahu betul bahwa dalam hidup ini kita harus terus, terus, dan terus berusaha dalam menjalani hidup yang merupakan anugerah. Tapi, kenapa terkadang pula, kita cepat menyerah ya?

Pertemanan itu tanpa pamrih. Tanpa perhitungan. Tanpa memanfaatkan. Pertemanan memang membutuhkan rasa toleransi yang besar, tapi kenapa terkadang rasa toleransi itu justru dimanfaatkan oleh teman qta? Saat qta berusaha untuk mengerti mereka, terkadang mereka tidak mau mengerti qta. Saat qta mencoba baik kepada mereka, terkadang mereka justru memanfaatkan kebaikan itu. Apa ini yang disebut pertemanan? Apa kalau semua ini terasa begitu menyesakkan, masih bisakah ini disebut sebagai sebuah pertemanan? Kenapa pertemanan yang seharusnya menyenangkan, malah menjadi menyakitkan?

1Saat ada yang bertanya sama gue, “lo lebih suka kerja sendiri atau berkelompok?”. Jujur gue langsung akan menjawab ’sendiri’. Do you want to call me silly or selfish? terserah. Tapi memang itu yang gue rasakan. bukannya gue sok jago bahwa gue bisa ngerjain semuanya sendiri, bukan. Gue pasti butuh bantuin orang lain. Tapi entah kenapa, gue merasa lebih nyaman untuk mengerjakan segala sesuatunya sendirian. Kalaupun ada yang gue nggak bisa atau nggak ngerti, gue hanya akan bertanya sama orang yang bisa, tapi finalnya, ya tetep gue yang ngerjain.
Alasan gue kurang menyukai kerja kelompok atau rame-rame, pertama adalah karena susah nyatuin isi kepala orang kedalam sebuah tujuan tertentu. Ada yang maunya A, B, dan C. susah. pasti harus ada yang legowo untuk menengahi. Dan jujur, i’m not that kind of person. gue keras kepala. Kedua, kadang kalau kerja rame-rame itu, jadinya malah arisan, jadi ngobrol kesana kemari nggak jelas arah. Dan Ketiga, susah nyamain mood setiap orang. Kadang si E lagi mood kerja, eh si G lagi ogah-ogahan, kan jadi susah.
Gue paham kerjasama itu penting. Karena gak mungkin kita perorangan bisa ngerjain segala sesuatunya sendiri. Seperti sebuah perusahaan, nggak mungkin kan sebuah perusahaan akan dijalankan oleh hanya satu orang aja. Tapi, sampai sekarang, gue masih menemukan kesulitan kalau harus kerja rame-rame, rasanya jadi tekanan batin sendiri. Mau terlalu keras dan saklek, itu temen sendiri. Mau terlalu lembek, ditindas. Terlalu ngotot, nanti nyakitin hati orang. Kalau terlalu pasarah dan iya-iya aja, nyakitin hati sendiri. Jadi bingung kan harus gimana???

Mana yang lo pilih? Seseorang yang mencintai lo atau seseorang yang lo cintai?

Seseorang yang mencintai lo bakal rela ngelakuin apa aja buat ngebikin lo bahagia. Mungkin sampai dia rela mati hanya untuk membuat lo ngerasa senang.

Seseorang yang lo cintai, belum tentu memiliki perasaan yang sama terhadap lo. Terkadang makhluk ini juga lah yang bisa ngebuat lo marah, kesel, kecewa, atau nangis sejadi-jadinya.

Kalau orang ngeliat dari luar, mungkin mereka akan bilang, ” mendingan lo milih orang yang udah jelas mencintai lo. dari pada orang yang lo cintai tapi nyakitin perasaan lo terus.”

Tapi setelah gw alamin sendiri dan berdasarkan pengalaman temen-temen gw, itu semua nggak bisa diliat dari sudut pandang seperti itu aja. Cinta itu kan masalah hati. nggak bisa dipaksain. Lo bisa jatuh bangun berjuang untuk ngedapetin cinta dari seseorang yang lo cintai, walaupun sebenernya lo udah tau kalo itu semua bakalan percuma. Wong dia sudah punya gebetan, pacar, atau bahkan istri.

Kadang rasa cinta memang mengalahkan semua pikiran logis yang ada di kepala. Terkadang semuanya sudah nggak pake nalar.

So, tentang yang mana yang bakalan lo pilih. Only u and God who knows about it.

Yang harus diinget adalah, semua keputusan itu pasti ada plus minus nya.

Mungkin ini kebiasaan aneh, gw suka banget ngamatin orang (yg gak gw kenal) pacaran. Kyak kalau ketemu di angkot, bis, atau tempat lainnya. And based on kebiasaan gw itu, ada beberapa makna tatapan pria ke pacarnya saat mereka lagi berbicara.
1. Tatapan bosen
Pria itu saat mendengar pacarnya bercerita, terlihat begitu tersiksa. Dia terus menatap ke mata wanitanya, tp gw menangkap bahwa arti tatapan itu bukanlah tatapan perhatian/menyimak. Tp gw mengartikan tatapan itu seperti ini : “honey, please stop talking about your problem. Qta kan lagi pacaran, lets talking about us”

2. Tatapan mupeng
Ada beberapa cowok yg saat berbicara dg pacarnya, terlihat sok memperhatikan. Tapi matanya gak fokus. Dan entah kenapa gw menangkap tatapan dg niat nakal dikepala pria itu. Tatapannya seperti sedang menelanjangi sang wanita. Gw aja yg melihatnya hanya dr kejauhan, merasa begitu jijik melihat tatapan seperti itu.

3. Tatapan takut.
Tatapan ini terlihat jelas pada pria yg terlalu takut dimarahi pacarnya, takut ditinggal pacarnya. Dari tatapannya, jelas si cowok mendengarkan pacarnya hanya karena ketakutan yang dimilikinya itu.

4. Tatapan sayang
Gila…. gw iri banget kalau ada cowok yang melihat wanitanya dengan tatapan seperti ini. Tatapan ini terlihat begitu tulus dan tanpa pamrih. Terlihat jelas bahwa sang pria begitu mencintai dan menyayangi sang wanita. Mantab abiez lah. Tatapannya itu seolah berkata :
“I’ll do anything, as long as you are here with me”
So Sweet….